Pra-Paskah hari ke-4: PENGUSIRAN DARI TAMAN

Pra-Paskah hari ke-4: PENGUSIRAN DARI TAMAN
Bacaan: Kejadian 3:8-24

Kejadian 3:8-24 (TB)  Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. 
Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?" 
Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi."
Firman-Nya: "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?"
Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan."
Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan." 
Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: "Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. 
Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya." 
Firman-Nya kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu."
Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu:  
semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu;
dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."
Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup. 
Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.
Berfirmanlah TUHAN Allah: "Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya." 
Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil. 
Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.


PENGUSIRAN DARI TAMAN
Bayangkan dunia yang dihuni Adam dan Hawa.
Ekosistem murni yang bebas dari polusi dan pembusukan yang oleh Allah sendiri dianggap "sangat baik" (Kej 1:30). Tindakan kreatif terpenting adalah membentuk dua manusia yang mencerminkan citra Allah (Kej 1:26). Adam dan Hawa mengalami perasaan keintiman interpersonal yang secara puitis digambarkan sebagai "satu daging" (Kejadian 2:24). Keintiman ini tidak terbatas satu sama lain, tetapi juga meluas ke Pencipta mereka. Di hari yang sejuk, Tuhan secara metaforis berjalan melintasi firdaus untuk berinteraksi dengan semua yang telah ia ciptakan — terutama Adam dan Hawa.
Namun, dalam narasi kita belajar bahwa Tuhan telah melakukan hal yang membingungkan — dia menetapkan sesuatu yang benar-benar terlarang bagi manusia — makan buah dari pohon Pengetahuan Baik dan Jahat. “Jika kamu memakannya, kamu pasti akan mati,” Tuhan menegaskan dengan nada yang tidak menyenangkan. Kita membaca bahwa pohon itu “baik untuk dimakan,” “sedap kelihatannya,” dan yang paling penting, “menarik hati karena memberikan pengertian” (Kej. 3: 6). Jika pohon itu menawarkan begitu banyak, mengapa Allah membuatnya terlarang? Dalam puisi Wendell Berry, "The Peace of Wild Things," orang hidup dalam masyarakat yang menghasilkan keputusasaan dan kecemasan. Obat Berry adalah berbaring dilubang kayu pinus yang dalam dan menikmati keindahan alam — untuk mengamati betapa damainya Wood Drake (Bebek Kayu) mengapung di atas air dan bagaimana pohon-pohon dan bintang-bintang menawarkan rahmat dan kebebasan. Di surga, Adam dan Hawa menjalani apa yang dinikmati Berry. Pasangan pertama di dunia yang bebas dari kecemasan menghuni ekosistem yang tidak hanya mereka rawat, tetapi nikmati. Tapi tidak menikmatinya sepenuhnya. Mengapa Tuhan menempatkan batasan menggoda ini di tengah taman dan menempatkan di atasnya tanda "Jangan sentuh?" Jika pohon itu menawarkan begitu banyak, mengapa Allah membuatnya terlarang? Ular menyarankan bahwa dalam memakan buah, mata Hawa akan terbuka dan dia akan menjadi seperti Allah dalam pemahamannya tentang yang benar dan yang salah (Kej. 3: 4). Mengapa Tuhan tidak ingin Hawa memiliki pemahaman moral yang lebih dalam? Para teolog mencatat bahwa Pohon Pengetahuan Baik dan Jahat hanya untuk sementara waktu terlarang bagi manusia pertama ini, batasan yang akan dihapus ketika mereka siap secara perkembangan untuk penalaran moral yang kompleks.
Ada dua kesalahpahaman tentang Pohon Pengetahuan Baik dan Jahat. Pertama, memakan buah pohon itu akan memberi Adam dan Hawa pengetahuan seperti pengetahuan Tuhan. Bukan demikian. Ungkapan pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat adalah gaya sastra Timur yang menunjukkan tingkat penalaran moral yang lebih dalam, bukan pengetahuan yang lengkap. Kedua, kita secara keliru menganggap bahwa pohon itu secara permanen terlarang. Dari sudut pandang Tuhan, masalahnya bukan seharusnya Adam dan Hawa mendapatkan penalaran moral yang lebih dalam, tetapi kapan. Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk memasak di atas api terbuka; itu bukan untuk balita. Pertanyaan utama seputar pohon terlarang adalah: Siapa yang berada dalam posisi terbaik untuk menilai apakah Adam dan Hawa siap menerima bentuk penalaran moral yang kompleks ini? Apakah manusia pertama akan tunduk pada waktu Tuhan untuk pengetahuan moral yang lebih dalam, atau mempercepat prosesnya?
Apakah kita juga demikian?
Pernahkah kita ingin mempercepat jadwal Tuhan untuk kita? Mengapa saya harus menunggu untuk mengalami kebaikan yang Tuhan miliki untuk saya? Tuhan, bisakah kau cepat-cepat?
Masa pra Paskah adalah saat bagi kita — seperti manusia pertama — untuk bertanya lagi, apakah Allah lebih tahu daripada kita tentang pertumbuhan manusia? Apakah kita mempercayai jadwal waktu Allah, bukan jadwal kita?

Doa:
Bapa,
Selama musim Prapaskah ini, izinkan kami dengan rendah hati dan sabar menunggu hadiah  dariMu. Lebih penting lagi, kiranya kami tunduk pada jadwalMu, yang dengan sempurna memperhitungkan segala sesuatu demi pertumbuhan kami. Dengan kuasa RohMu, kami menolak upaya Setan untuk mengacaukan waktu dan kedaulatanMu. Amin

Disadur dari The Lent Project
Penulis:
Tim Muehlhoff
Professor of Communications
Director of Resources at the Center for Marriage and Relationships
Biola University

Mengenai lukisan di atas:
Expulsion from the Garden 
Thomas Cole
Oil on canvas
100.96 cm × 138.43 cm 
Museum of Fine Arts 
Boston, Massachusetts

Comments