Pra-Paskah Hari ke-1: ORANG FARISI & PEMUNGUT CUKAI

Pra-Paskah Hari ke-1: ORANG FARISI & PEMUNGUT CUKAI
Bacaan: Lukas 18:10-14

18:10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa;  yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 18:11 Orang Farisi itu berdiri  dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 18:12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 18:13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 18:14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."



Yesus terus-menerus memperingatkan orang-orang di sekitarnya tentang bahaya kesombongan (merasa diri paling benar) dan penghakiman. Keduanya sangat berbahaya karena benih kesombongan dan penghakiman ditaburkan bersama benih-benih pelayanan yang tulus atau keinginan untuk hidup kudus. Ketika benih kesombongan tumbuh, ia melingkupi apa pun yang ada, termasuk karunia kita, pengetahuan kita, atau aktivitas positif kita. Hal-hal yang indah ini pada akhirnya terhimpit dan terhambat pertumbuhannya, sementara energi hidup kita berpusat untuk melayani diri sendiri yang fana.

Penghakiman terhadap orang lain adalah buah alami dari kesombongan, terlahir karena kita akan melakukan apa saja untuk mempertahankan kesan kekudusan, otoritas, dan kebenaran kita yang rapuh. Orang Farisi dalam kisah Kristus ada di posisi yang berbahaya, kesombongan telah menyita banyak, menutupi banyak, dan tampaknya ia hanya bisa menilai dirinya sendiri berdasarkan ritual-ritual yang dilakukannya atau dosa-dosa yang tidak dilakukannya. Kasih yang sejati, kekudusan sejati, dan tentunya doa yang sejati tidak tersedia untuknya.  Doa-doanya mencemooh rasa bersyukur orang lain dan menyebut nama Allah dengan sia-sia.

Yesus memilih pemungut pajak berdosa sebagai kebalikan dari orang suci. Untuk alasan apa pun, segala keangkuhan pria ini sudah dipangkas habis. ia tidak memiliki komentar apapun mengenai orang lain dalam hidupnya, tidak membandingkan diri dengan orang Farisi, tidak menyalahkan, dan tidak merasa dirinya benar. Dia tidak meminta Tuhan untuk membuatnya lebih nyaman, atau untuk memperbaiki situasi apa pun yang telah membuat dosanya menjadi nyata. Dia bahkan tidak meminta anugerah untuk berbuat baik, atau untuk mencapai lebih banyak. Dia hanya meminta belas kasihan. Doanya semata-mata diarahkan kepada Allah, dan ia tampaknya mengetahui sesuatu tentang karakter Allah.

Terlepas dari perbedaan yang sangat mencolok dalam cerita dan ilustrasinya tentang dua orientasi hati yang secara radikal bertentangan, Yesus dengan halus mengingatkan para pendengarnya bahwa kedua orang tersebut membutuhkan keadilan hari itu. Kedua pria itu sama sama membutuhkan belas kasihan Tuhan secara setara.

Disadur dari The Lent Project 
Renungan oleh:
Jonathan Puls, MFA, MA
Associate Dean of Operations
School of Fine Arts and Communication
Associate Professor of Art History and Painting
Biola University

Comments